Member of BAPPEBTI - License No: 824/BAPPEBTI/SP/11/2005
Member of Kliring Berjangka Indonesia - License No: 54/AK-KBI/I/2007

Prinsip Dasar Analisis Teknikal
Ada tiga hal pokok yang digunakan sebagai dasar melakukan analisis yaitu : (1) Market Price...
BADAN PENGAWAS PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI tentang Perubahan Nomor Rekening Terpisah pada bank BCA untuk PT MEGAHTAMA BERJANGKA
Menunjuk surat PT MEGAHTAMA BERJANGKA Nomor 005/Bappebti/MTB/IX/07 tanggal 18 September 2007...
Membaca Pola Grafik, Pola Pembalikan Arah
i) Kepala dan Bahu
Pola yang paling handal dari semua pola pembalikan arah yang mencerminkan...



job


Fundamental Analysis

To download our Research, please click here

FUNDAMENTAL, Wednesday - 08 September 2010



FOREX

USD
• Saham-saham AS melemah dalam volume perdagangan yang tipis pada hari Selasa karena investor mengacu pada permasalahan terkini mengenai perbankan Eropa sebagai alasan untuk melakukan aksi jual setelah penguatan yang tajam minggu lalu.
• Indeks saham utama Inggris melemah dari penutupan empat bulan tertingginya dan mengakhiri kenaikan tujuh sesinya pada hari Selasa, dipimpin penurunan oleh Barclays setelah perubahan manajemen dan saham-saham pertambangan dari permasalahan mengenai Australia\'s tax plan. Indeks FTSE 100 <.FTSE> ditutup 31.37 poin atau 0.6 persen pada level 5.407,82, setelah kenaikan 6.5 persen dalam tujuh sesi sebelumnya dan volume sebesar 63 persen dari 90-day daily average.
• U.S. dollar naik terhadap kebanyakan mata uang utama tetapi melemah ke level 15 tahunnya terhadap yen pada hari Selasa dari permasalahan terkini mengenai tingkat kesehatan perbankan Eropa yang memicu kepada risk aversion.
• U.S. Treasuries mengalami rebound pada hari Selasa setelah penurunan tiga sesinya berturut-turut karena pelemahan saham-saham, kekhawatiran sektor finansial Eropa dan penguatan auction obligasi bertenor tiga tahun yang mendorong harga debt.
• Emas menghapus penurunan awalnya untuk menguat ke level tertingginya sejak akhir Juni pada hari Selasa karena investor telah kembali setelah libur dari Labor Day AS yang melakukan aksi beli sebagai pelindung ditengah permasalahan tingkat kesehatan system perbankan Eropa. Spot gold mencapai posisi tertingginya $1,259.80/oz dan diperdagangkan di level $1,257.20/oz pada pukul 1437 GMT, tehadap $1,249.55 panutupan New York Senin lalu.
• U.S. benchmark October crude telah anjlok hampir $2 per barrel berkenaan dengan permasalahan perbankan Eropa. Tetapi setelah berita mengenai ledakan (Mexican oil refinery), U.S. crude membagi penurunannya untuk di settle ke level $74.09, turun hanya 51 sen per barrel dari penutupan Jumat lalu, yang telah diperdagangkan di sekitar level $72.63 sampai $74.63 per barrel.
• Outlook (Rabu, 08/Sept./2010): Bursa saham Asia diperkirakan dibuka melemah pada hari Rabu, dipimpin penurunan oleh permasalahan terkini mengenai perbankan Eropa.

GBP
• Pertumbuhan ritel Inggris mengalami akselerasi bulan lalu, didorong oleh penjualan pakaian, sebuah survei menunjukkannya pada hari Selasa, tetapi diskon menjadi bagian dalam perbaikannya (penjualan) dan konsumen tetap enggan dalam membeli barangbarang yang termasuk mahal.
• British Retail Consortium mengatakan nilai penjualan ritel naik 1.0 persen daripada tahun lalu pada bulan Agustus dalam basis tahunan. Total penjualan, yang termasuk new floorspace, menguat 2.8 persen.
• Sterling melemah ke level terendahnya dalam enam minggu terhadap dollar pada hari Selasa, ditekan karena penurunan euro versus greenback/dollar berkenaan permasalahan mengenai sistem perbankan Eropa dan kesulitan finansial pada sektor perumahan Inggris.

EUR
• Berkembangnya risk-appetite, dari rilis membaik data ekonomi AS belakangan ini, terhadang karena munculnya sejumlah sentimen negatif di pasar untuk wilayah regional Eropa. Aset-aset beresiko seperti saham dan mata uang ber-yield lebih tinggi kembali tertekan. Rebound EUR/USD gagal bertahan di atas 1.2900, dan gagal menembus resistance 1.2923, untuk kemudian turun signifikan hingga ke 1.2729 di sesi NY Selasa kemarin. Rebound EUR/JPY juga gagal bertahan di atas areal 109, dan di sesi NY semalam kembali tertekan signifikan hingga ke level 106.49 – mendekati low minggu lalu, 106.19 (31/Aug.)
• Ada 3 isu negatif mengenai regional Eropa Selasa kemarin, yang menghadang risk-appetite dan cenderung akan mengembangkan risk-aversion kembali – suatu faktor utama yang menyebabkan turunnya bursa saham global dan aset-aset ber-yield tinggi lainnya, seperti mata uang euro. Yang pertama adalah rilis pesimis industrial orders Juli Jerman, yang mengalami penurunan tertajamnya selama lebih dari 1 tahun, akibat lemahnya demand global dan merosotnya order-order besar di bawah rata-rata. Hal ini memicu kekhawatiran terhadap prospek perekonomian Jerman sebagai negara terbesar Eropa, dan juga prospek perekonomian regional Eropa yang belakangan tertopang oleh kinerja ekonomi Jerman.
• Yang kedua juga masih dari Jerman, yakni berupa komentar dari asosiasi perbankan Jerman Senin awal minggu ini yang mengatakan bahwa 10 bank terbesar di sana membutuhkan ‘additional capital’ hingga 105 milyar euro. Hal ini menyulut kembali kekhawatiran pasar terhadap sektor perbankan Eropa. Akibatnya, yield-spread antar obligasi pemerintah Eropa (antara Jerman dengan negara Eropa lainnya) kembali melebar, terutama Portugal dan Irlandia. Misalnya, yield spread obligasi pemerintah Portugal tenor 10 tahun terhadap Jerman melebar dalam kapasitas terbesarnya sejak bulan Mei.
• Sementara yang ketiga datang dari tulisan dalam Wall Street Journal (WSJ) yang mengungkap ‘kekurangan’ dari stress-test perbankan Eropa yang dirilis akhir Juli lalu – ketika kekhawatiran terhadap holding obligasi pemerintah di perbankan meningkatkan keraguan terhadap sehatnya sistem perbankan Eropa. Menurut seorang analis di WSJ, banyak holding obligasi pemerintah yang dimiliki perbankan regional Eropa tidak masuk hitungan dalam stress-test tersebut, dan bahkan banyak yang ‘mengurangi’ jumlah holding posisi ‘short’ yang dimiliki. Temuan ini merujuk pada bank-bank besar seperti Barclay serta Credit Agricole SA, yang ‘mengurangi’ holding mereka dalam jumlah signifikan – sebuah temuan WSJ yang diperoleh dari sumber pejabat-pejabat terkait dan arsip-arsip finansial dari bank-bank tersebut. Selain itu, temuan WSJ juga menyingkap perbedaan level sovereign-debt dalam stress-test dengan level perhitungan internasional serta dengan statement dari bank-bank terkait. Sehingga kredibilitas dari stress-test perbankan Eropa yang dikoordinir oleh Committee of European Banking Supervisors (CEBS), pun kini dipertanyakan.
• Laporan stress-test perbankan Eropa yang dirilis akhir Juli lalu pada awalnya memberikan support pada pasar, namun kemudian kembali cenderung tertekan setelah negara-negara Eropa yang mengalami defisit, seperti Yunani dan Irlandia, kembali bergejolak. Insuring cost untuk perbankan dan obligasi pemerintah mereka masing-masing mengalami peningkatan terhadap default-nya, bahkan berada di atas level sebelum stress-test diselenggarakan.
• Hari ini pasar akan mengamati data perdagangan (trade balance) Eropa periode Juli. Waspadai rilis di luar perkiraan dan jauh signifikan dibandingkan periode sebelumnya akan mengembangkan concern terhadap prospek ekonomi Eropa, menyusul data industrial orders Jerman yang dirilis pesimis kembali mempengaruhi sentimen pasar.

JPY
• Yen berlanjut bergerak atas dollar, test-break ke level terkuatnya selama 15 tahun di 83.49/52 setelah risk-appetite global tertahan dan peran safe-haven yen sebagai mata uang ber-yield rendah meningkat. Isu dari Eropa, yakni rilis pesimis data industrial orders Jerman serta meningkatnya kembali kekhawatiran perbankan di regional Eropa, kembali memicu risk-aversion – yang belakangan sempat mereda karena membaiknya data ekonomi AS.
• Yen juga mencatat penguatan atas Euro setelah upaya koreksi sebelumnya gagal bertahan di atas 109. EUR/JPY sempat rebound ke 109.54 (03/Sept.) akhir minggu lalu karena bangkitnya risk-appetite ditopang oleh rilis membaik data ekonomi AS, namun kemudian hingga Selasa kemarin mengalami pull-back secara gradual hingga kembali ke areal 106.
• Sidang regular dewan moneter bank sentral Jepang (BoJ) kemarin memutuskan untuk mempertahankan kebijakan moneter dan suku bunganya, namun berjanji akan mengambil langkahlangkah penyelamatan sewaktu-waktu jika diperlukan. Janji BoJ tersebut mengindikasikan bahwa masih akan memonitor kondisi menjelang voting pimpinan partai Demokrat yang sedang berkuasa di Jepang, tanggal 14/September, yang akan menentukan karir Naoto Kan sebagai perdana menteri Jepang. Selain itu juga, janji BoJ mengindikasikan akan memonitor lebih lanjut pengaruh dari langkah penguatan yen belakangan ini terhadap prospek perekonomian Jepang.
• Sementara pasar kecewa dengan pernyataan gubernur BoJ, Masaaki Shirokawa, yang mengatakan bahwa otoritas moneter tidak bisa mengendalikan nilai tukar. Hal ini juga memicu aksi beli yen di pasar yang menjadi kontribusi lain bagi penguatan yen kemarin, menyusul berkembangnya spekulasi bahwa otoritas moneter Jepang tidak akan mengambil langkah agresif sebagai upaya menghambat penguatan yen dan penyelamatan ekonomi.
• Verbal intervention belakangan ini berkembang, dan terakhir datang dari Ketua komisi penanganan krisis finansial di Majelis rendah Jepang, Banri Kaieda, menyatakan bahwa Jepang berpeluang melakukan solo-intervention meskipun ada concern bahwa aksi tersebut (tanpa bantuan AS dan Eropa) tidak akan banyak membantu. Namun pasar tidak banyak terpengaruh oleh aksi intervensi verbal tersebut. Terakhir kali Jepang melakukan intervensi secara kongkrit pada Maret 2004, yang merupakan akhir dari rangkaian intervensinya selama 15 bulan senilai 35 trilyun yen ($415,9 milyar) untuk menyelamatkan perekonomian.
• Beberapa sumber memperkirakan bahwa intervensi untuk menghambat laju penguatan yen dapat dilakukan secara sepihak oleh pemerintah/otoritas moneter Jepang jika terjadi penguatan yen atas dollar ke areal 80 (all-time low USD/JPY) dan/atau terjadi penguatan yen atas dollar hingga 200-300 pips (2-3 yen) per hari.
• Sementara minggu lalu (Senin 30/Aug.) BoJ melakukan pertemuan darurat yang memutuskan untuk kembali melonggarkan kebijakan moneternya dengan memperpanjang masa waktu dan menambah volume program cheap loan-nya ke perbankan. Hal ini tidak banyak memberikan pengaruh pada yen karena dinilai kurang agresif.
• Waspadai alasan kongkrit di pasar yang memperkirakan bahwa Jepang tidak akan melakukan intervensi – Hal ini akan mendukung penguatan yen lebih lanjut atas dollar menembus ke bawah previous low 83.57. Alasan pertama adalah pengalaman aksi intervensi 2004 yang relatif gagal. Di Q1 2004, Jepang menghabiskan dana hampir 15 trilyun yen untuk menghambat penguatan yen yang ketika itu sudah mencapai areal 109 per dollar. Upayanya tersebut hanya melemahkan yen hingga 115 per dollar untuk kemudian di akhir tahun 2004 tersebut kembali menguat menembus 109, ke areal 103. Alasan berikutnya adalah: tidak akan mendapat dukungan (atau bisa jadi ditentang oleh AS maupun G7), setelah sikap mereka yang menentang kebijakan nilai tukar Cina, yang dianggap memanipulasi. Nampaknya nasib yen akan sangat ditentukan dari akar masalah, yakni kinerja ekonomi global. Jika menunjukkan perbaikan signifikan, maka safe-haven buying yang men-support penguatan yen baru akan mereda.

AUD
• Aussie dollar tertekan anjloknya minat investor pada aset beresiko setelah munculnya kekhawatiran mengenai kondisi hutang di Uni-Eropa serta Amerika. Terhadap dollar AS, Aussie melemah 0.8%, dan terhadap yen turun 1.2%, namun sebaliknya berhasil naik 0.7% terhadap euro.
• RBA mempertahankan suku bunga dilevel 4.5% sesuai perkiraan pelaku pasar, dengan dasar bahwa perbaikan ekonomi global masih akan menahan laju ekspansi ekonomi dalam negeri.Mulai kendurnya prospek pertumbuhan ekonomi Amerika sempat menurunkan bursa saham bulan lalu dan memberikan tekanan pada The Fed untuk memberikan sinyal bahwa mereka telah siap untuk menambah stimulus moneter guna mendukung pertumbuhan ekonomi.Disisi lain, secara kontras ekonomi Australia terus berekspansi seiring melambungnya permintaan terhadap komoditas asal Australia, terutama batu bara dan bijih besi.
• Gubernur Glenn Stevens di akhir sidang reguler untuk September menyatakan : \"dengan pertumbuhan ekonomi yang masih akan berjalan sesuai tren, level inflasi akan mendekati target RBA dan dengan kondisi ketidakpastian global RBA menetapkan kebijakan moneter yang disesuaikan dengan kondisi terkini\".
• Ekspansi pertumbuhan ekonomi Australia diperkirakan akan menaikan inflasi diatas target RBA antara 2% hingga 3% sebelum pertengahan tahun 2011.Pejabat kementrian keuangan Australia memprediksi GDP antar tahun pada 2010 akan berakselerasi hingga 4% mendapat dukungan dari proyek-proyek berdana besar seperti proyek Chevron Crop yang mencapai 43 miliar Aussie dollar pembuatan instalasi gas alam Gorgon di bagian Barat Australia.

CHF
• Berkembangnya concern perbankan Eropa – dari laporan Asosiasi Perbankan Jerman dan laporan Wall Street Journal yang meragukan kredibilitas stress-test perbankan Eropa yang dirilis Juli lalu – meningkatkan kembali peran safe-haven Swiss franc dan mendukung penguatannya menembus rekornya lebih lanjut terhadap euro di 1.2808 Selasa.
• Peran safe-haven Swiss franc juga mendukung penguatannya hingga 1.0080 per dollar mendekati level penguatannya minggu lalu, 1.0066 (1/Sept.).
• Trend penguatan Swiss franc nampaknya berpeluang berlanjut kembali setelah koreksinya (akibat redanya risk-aversion dari rilis lebih baik data-data ekonomi global meredam peran safe-haven) hanya bersifat sementara, terutama terhadap USD dan EUR.
• Sementara perekonomian Swiss belakangan ini relatif lebih baik ditandai dengan rilis optimis data GDP Swiss di semester pertama tahun ini yang membuka peluang lebih besar bagi potensi kenaikan suku bunga Swiss oleh SNB, paling cepat akhir tahun ini. Data inflasi Swiss Agustus juga menunjukkan stabilitas. SNB akan menggelar pertemuan kuartalannya pada 16 September 2010 mendatang.
• Namun penguatan Swiss franc belakangan ini, karena peran safe-haven di tengah masih berkembangnya concern ekonomi global, beresiko menghambat laju ekspansi ekonominya yang sangat ditopang dari eksport.
• Sekitar lebih dari setahun hingga akhir semester pertama 2010, SNB terus melakukan intervensi manakala terjadi penguatan signifikan Swiss franc atas euro. Dan beberapa waktu lalu, presiden SNB, Philipp Hildebrand, kembali membuka wacana intervensi tersebut. Komentarnya itu nampaknya akan diuji pasar, saat Swiss franc kembali menembus rekor terkuatnya atas euro.
• Sebelumnya kebijakan intervensi SNB mendapat kritik dari lembaga moneter internasional, yang membuat SNB menghentikan kebijakan intervensi tersebut di akhir semester pertama tahun 2010 ini.
• Perbaikan ekonomi dan potensi kenaikan suku bunga Swiss yang diikuti oleh peran safe-haven Swiss franc di tengah kekhawatiran ekonomi global belakangan ini akan menekan USD/CHF menembus ke bawah level parity (1.0000) di tahun ini. Namun waspadai potensi intervensi dari SNB di bulan September ini, dan juga aksi intervensi tersebut bisa saja merujuk sikap intervensi (verbal) dari pemerintah Jepang yang belakangan mulai gencar dilakukan.


INDEX

NIKKEI
• Indeks Nikkei ditutup jatuh 0,8% pada hari Selasa akibat profit-taking setelah 4 hari berturut-turut mengalami rally, ditambah mulai mengendurnya penguatan yen.
• Namun dalam 2 hari berturut-turut indeks bertahan di atas areal MA-25 (level pergerakan rata-rata harian selama 25 hari) yang sebelumnya berlaku sebagai resistance kuat di bulan Agustus lalu. Hal ini mengisyaratkan indeks berpeluang kembali mengalami rebound selama mampu bertahan di areal MA-25 tersebut.
• Pelaku pasar masih akan melihat reaksi Wall Street setelah Presiden AS Barack Obama menggelontorkan dana awal sebesar $50 milyar untuk membangun kembali infrastruktur AS dan juga menyiapkan pemangkasan pajak bisnis yang baru. Hingga berita ini ditulis, bursa berjangka AS turun 0,3% setelah bursa saham AS tutup pada hari Senin berkenaan dengan libur Hari Buruh (Labor Day).
• Indeks ditutup jatuh 75,32 poin ke level 9.226,00. Sedangkan indeks Topix turun 0,5% ke level 834,92.
• Nikkei dalam bulan ini telah rebound sekitar 5% pasca terkoreksi 7,5% di bulan Agustus, namun masih menjadi salah satu indeks saham yang terburuk dalam tahun ini, menyusul kekhawatiran penguatan yen akan memangkas laba korporasi dan juga menghambat proses pemulihan ekonomi Jepang.
• Sementara itu, pasar terlihat tidak bereaksi atas keputusan BOJ yang mempertahankan kebjakan moneternya. Setelah melonggarkan kebijakannya pekan lalu, BOJ kembali mempertahankan suku bunganya di level rendah 0,1%, seperti yang sudah diantisipasi pasar sebelumnya.
• Dalam konferensi pers-nya, Gubernur BOJ Masaaki Shirakawa mengatakan bank sentral akan memperhatikan dengan seksama dampak dari penguatan yen terhadap perekonomian Jepang, namun ia juga menegaskan bahwa kesuksesan dari suatu langkah kebijakan tidak dapat didasarkan hanya pada pergerakan pasar dalam jangka pendek.

KOSPI
• Setelah selama 4 sesi mengalami penguatan, indeks Kospi akhirnya ditutup melemah pada hari Selasa, menjauhi level psikologi 1.800, namun saham baja POSCO berhasil mendaki berkat berita adanya penutupan sementara sejumlah tambang baja di Cina.
• Indeks Kospi (.KS11) ditutup melemah 0,26% di posisi 1.787,74 poin.
• Meskipun indeks mengalami tekanan, namun investor asing tercatat melakukan pembelian bersih saham senilai 228,3 milyar won, sementara investor institusi dan perorangan menjual bersih saham senilai masing-masing 137,3 milyar won dan 5,7 milyar won.
• Saham baja berhasil rally setelah sehari sebelumnya tersiar kabar bahwa 18 pembuat baja kecil di provinsi Hebei diperintahkan untuk menghentikan produksi untuk jangka waktu satu bulan. Beijing telah menetapkan suspensi pada beberapa kapasitas baja penyebab polusi sesuai target Cina untuk menghemat konsumsi energi. Saham POSCO melejit 4,5% dan Hyundai Steel Co melonjak 5,1% sedangkan Dongkuk Steel Mill Co Ltd mendaki 2,9%.
• Saham sektor teknologi dan ototmotif melemah setelah mengalami rally sebelumnya. Hyundai Motor Co turun 0,7% dan Hynix Semiconductor Inc merosot 1,6%.

HANGSENG
• Bursa saham Hong Kong dan Shanghai melanjutkan penguatannya pada hari Selasa ditopang oleh kenaikan saham sektor baja menyusul ekspektasi Beijing akan membatasi produksi bajanya, dimana berpotensi mengangkat harga baja di pasar.
• Sentimen masih positif setelah pekan lalu rilis data manufaktur dari sejumlah negara industri maju dan data payrolls AS hari Jumat kemarin yang menggembirakan telah mengurangi kekhawatiran mengenai prospek pemulihan ekonomi global.
• Indeks Hang Seng ditutup naik 0,2% ke level tertinggi 1 bulan di 21.401,8, mencatat penguatan kelima kalinya secara berturut-turut sejak Selasa pekan lalu hingga mencapai lebih dari 4%, yang merupakan kenaikan 5 hari berturut-turut terbaiknya selama lebih dari 2,5 bulan. Sedangkan China Enterprise Index ditutup flat.
• Sebuah laporan mengatakan sebanyak 30 pabrik baja besar di sebelah utara Cina telah diperintahkan untuk memangkas produksinya hingga 70% mulai September. Sedangkan sehari sebelumnya tersiar kabar bahwa 18 pembuat baja kecil di provinsi Hebei diperintahkan untuk menghentikan produksi untuk jangka waktu satu bulan. Beijing telah menetapkan suspensi pada beberapa kapasitas baja penyebab polusi sesuai target Cina untuk menghemat konsumsi energi.
• Kebijakan pemerintah Cina tersebut berpotensi memangkas produksi baja tahunan sebesar 25 juta ton, dan mendorong kenaikan saham baja di bursa Asia.
• Naiknya saham baja telah membantu indeks Komposit Shanghai untuk ditutup menguat 0,1% ke level tertinggi 4 bulan. Namun rally indeks Shanghai masih terganjal di areal resistance 2.700 menyusul kehati-hatian investor menjelang rilis data ekonomi Cina pekan ini.
• Data ekonomi CIna yang akan dirilis pekan ini nampaknya akan menunjukkan berlanjutnya pertumbuhan ekonomi CIna yang moderate di bulan Agustus, meningkatnya surplus perdagangan dan juga inflasi. Data-data tersebut dijadwalkan akan dirilis hari Jumat.


GOLD

XAU
• Harga emas dunia ditutup menguat 0.4% terhadap USD dan mendekati level 1260 USD per troy ounce untuk pertama kalinya sejak Juni silam. Penguatan harga emas ditunjang kekhawatiran terbaru mengenai kondisi kesehatan sistem perbankan Uni-Eropa, yang kemudian menurunkan minat investor kepada aset beresiko.
• Volatilitas di bursa saham diperkirakan akan dapat menaikkan minat investor mengalihkan investasinya pada emas. Harga emas dunia diprediksi akan segera mencoba test lifetime high level di kisaran 1264.90 USD per troy ounce yang sempat tercetak Juni silam. Proyeksi tersebut sesuai dengan outlook ekonomi global yang masih suram dan tingginya permintaan fisik terhadap emas berkaitan dengan festival di India. Kondisi ketidakpatian ekonomi global akan mengangkat minat investor pada aset-aset berstatus safe haven seperti emas untuk melindungi asetnya dari pergerakan nilai tukar mata uang yang tak menentu dan juga resiko tekanan inflasi. Pasar masih menantikan klimaks dari musim festival di India yang mengangkat minat investor terhadap emas, yaitu festival Dhanteras, yang disebut sebagai hari pembelian emas terbesar sedunia.
• Harga emas juga diperkirakan akan memperoleh dukungan dari adanya kekhawatiran dikalangan investor bahwa beberapa perbankan Uni- Eropa akan mengalami kesulitan untuk meningkatkan pendanaan tambahan. Asosiasi perbankan Jerman (the Association of German Banks) melaporan bahwa 10 perbankan utama di Jerman termasuk Deutsche Bank AG diperkirakan akan membutuhkan dana setidaknya 105 miliar euro (134 miliar USD) untuk meningkatkan modal sesuai dengan aturan baru. Estimator harga emas paling terkemuka dalam 3 kuartal terakhir (berdasarkan Bloomberg) Jochen Hitzfield dari Unicredit, menaikkan estimasi harga rata-rata emas dalam 12-bulan mendatang menjadi 1400 USD per troy ounce, menyesuaikan permintaan dari Cina. Pada 2012 mendatang harga emas dunia bahkan diprediksi akan mencapai level 1600 USD per troy ounce.